Senin, 15 Oktober 2018



Menari merupakan hal indah yang menjadi salah satu unsur seni. Bahkan, hingga setiap insan diperbolehkan membuat tari kreasinya sendiri, untuk dipertontonkan, hingga menjadi penghasilan tersendiri bagi para penari tersebut. Namun, siapa sangka, di zaman dulu, terdapat salah satu tarian yang menghebohkan dunia, lantaran tidak ada satupun yang memiliki hipotesa yang tepat perihal masalah tersebut.

Ya, namanya The Dancing Plague. Sebenarnya tarian ini bermula dari seseorang yang bernama Troffea. Nah, pada Juli 1518 Troffea muncul di tengah-tengah kota Strasbourg, kota kecil di Romawi kuno, sambil menari-nari bak orang gila. Awalnya, ini menjadi tontonan yang menarik bagi orang-orang saat itu, namun berubah menjadi mengerikan setelah Troffea tidak berhenti menari selama berhari-hari lamanya.

Yang lebih parahnya lagi, tarian ekstrem ini diikuti oleh orang-orang. Satu demi satu, mereka mulai mengikuti Troffea, mereka bergandengan tangan, dan mulai menari seperti orang gila. Dan anehnya, mereka tidak pernah berhenti sedikitpun, tidak makan, juga tidak minum. Dikabarkan, sekitar 400 orang yang mengikuti tarian maut ini. Jadi nggak heran, kalau banyak dari mereka yang tumbang, bahkan banyak yang meninggal di tempat. Hal ini menimbulkan kebingungan yang dahsyat di tanah Eropa kala itu. Mereka yang tidak ikut menari, sangat ketakutan, dan bertanya-tanya perihal apa yang telah terjadi.

Pemerintah tidak tinggal diam. Mereka memanggil para pemuka agama, ahli spiritual, hingga dokter kala itu. Namun mereka tidak dapat menganalisis apa yang terjadi kala itu. Hingga pada akhirnya, pemerintah menemukan ide untuk memisahkan penari dari formasi tarian, dan cara tersebut berhasil memberhentikan tarian mengerikan tersebut.

Para peneliti hanya bisa menduga ini adalah wabah yang ditimbulkan karena mereka memakan makanan tertentu yang menimbulkan efek tersebut. Dan ini tak bisa dijelaskan secara gamblang dan hanya dugaan dugaan yang tidak kuat.

Selain dari segi ilmiah, tarian maut ini pun dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik, ada yang mengatakan bahwa ini adalah ritual, mengingat jumlah penari yang tidak sedikit, dan mereka lupa akan sifat manusiawi mereka. Namun, ini juga tidak memiliki bukti yang kuat.

The Dancing Plague ternyata juga menyebar hingga ke Inggris, Jerman, dan beberapa negara di Eropa lainnya. Dan tarian The Dancing Plague masih menjadi misteri hingga saat ini
(FAISOL/161018)

Faisol Abrori

16 komentar

apakah faisol akan memecahkan misteri ini?

REPLY

aku lebih condong pendapatnya para peneliti mas, bisa jadi mereka makan sesuatu yang efek sampingnya membuat gerak-gerak sendiri tapi belum tau juga, makanan apa yang bisa menimbulkan efek begitu

REPLY

Ini klo ketemu orang Jawa ...namanya kerasukan Sol..

Aku baru tahu lho ada dancing plague ini. Makasih infonya

REPLY

tapi nggak kerasukan juga sih mbak, soalnya bisa waras setelah dipisah formasinya, jadi aku ngerasa kurang pas aja kalo disebut kerasukan

REPLY
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Sejarah dalam seni itu memang menarik apa lgi mengingat masa lalu dan semoga di sejarah kesenian ini bisa dpt peljaran yg bermnfaat

REPLY

Bukan seni btw....

REPLY

Wajar aja sih warga yang lain pada ketakutan, gambaran tariannya yang kaya orang gila itu saja sudah jelas menakutkan.

REPLY

Bener banget mas.... ngeri jadinya

REPLY

Wah gara-gara baca tulisan mas faisol ini aku jadi penasaran trus googling lagi tentang dancing plague ini, kufikir sepertinya ini mistis tapi ternyata bukan juga ya.. lalu apa? hiiii ngeri. Btw salam kenal mas faisol ^^

REPLY

haduh kak... maaf kalau teracuni, hehehehehe, aku pikir apa ya... jadi bingung juga sekarang aku :V

REPLY

Di Daerah maluku ada juga tarian yang berlangsung selama 24 jam hingga 3 hari tanpa henti, namanya tari salai JIN. kalau ini bisa dihentikan, tapi penarinya bener bener kelenger kecapaian.

REPLY

wah ngeri juga ya kak....

REPLY

Wah . Bub kalo ada tarian yg bgtu. Salam kenal yaa.. Aku blogger bengkulu

REPLY

Apakah sejarah mencatat koreografi dari tarian ini?

REPLY

Jejak Biru . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates