Pengetahuan Tentang Wakaf, Serta Perbedaannya dengan Zakat dan Infaq - Jejak Biru
News Update
Loading...

Sabtu, 14 Maret 2020

Pengetahuan Tentang Wakaf, Serta Perbedaannya dengan Zakat dan Infaq

source:lifepal

Wakaf, sebagian besar dari kita tidak asing dengan kata ini. Namun, sudahkah kita mengetahuI artinya? Atau sudahkah kita mengimplementasikannya dengan tepat? Sebagai muslim, tentu kita tak asing dengan istilah wakaf, zakat dan infaq. Ketiganya memiliki makna yang hampir sama, yaitu memberikan apa yang kita punya pada orang lain. Walaupun hampir sama, ternyata wakaf, zakat, dan infaq mempunyai implementasi yang berbeda.

Apa saja perbedannya? Mari kita dalami apa itu wakaf dan apa yang membedakannya dengan dua istilah lainnya.

Wakaf (Waqf) secara bahasa berarti menahan. Secara syara’ (istilah), wakaf berarti memberikan harta yang kekal dzatnya (tidak berkurang nilainya) yang dipergunakan untuk kepentingan umat. Harta wakaf ini tidak boleh dijual, pindah kepemilikan ataupun diwariskan. Benda/kekayaan yang yang paling umum untuk diwakafkan adalah tanah. Namun bukan berarti harta selain tanah tidak dapat diwakafkan. Asal sudah memenuhi syarat, kita dapat mewakafkan harta kita. Apa saja syarat tersebut?

Syarat Wakaf

Ada 5 macam syarat yang harus dipenuhi ketika kita hendak berwakaf. Kelima syarat tersebut adalah sebagai berikut

1.Al Waqif (Orang yang Berwakaf) Sebagai orang yang berwakaf, kita harus memenuhi beberapa syarat atau kriteria. Syarat tersebut ialah: a.Harta yang akan diwakafkan harus milik sendiri. Tidak diperbolehkan harta yang asih dalam sengketa atau harta yang masih dalam tanggungan hutang untuk diwakafkan. b.Baligh Orang yang berwakaf haruslah orang yang cukup umur. Artinya, orang tersebut harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. c.Berakal Orang yang berwakaf hendaknya adalah orang yang sehat secara rohani. Orang tersebut juga tidak dalam kondisi terpkasa dan tertekan ketika menyerahkan hartanya.

2.Al Mauquf (Benda yang Diwakafkan) Benda yang akan diwakafkan juga harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut: a.Benda harus jelas wujudnya. Harta yang akan diwakafkan harus jelas wujud dan nilainya. Apabila harta tersebut tidak jelas wujudnya (gharar) atau tidak diketahui jumlahnya (majhul), maka tidak sah untuk diwakafkan. b.Harta yang diwakafkan dimiliki oleh yang berwakaf Harta tersebut harus benar benar dimiliki oleh wakif. Juga harus bebas dari tanggungan hutang atau sengketa apapun. c.Harta tidak memiliki hak Khiyar (Dipindah milikkan) Harta yang akan diwakafkan tidak memiliki keterikatan dengan pihak-pihak yang terlibat transaksi jual beli. Hal ini dimaksudkan agar harta yang telah diwakafkan tidak bisa dibatalkan. d.Harta tersebut harus berdiri sendiri Harta ini tidak boleh melekat dengan harta yang lain. Semisal itu tanah, tanah tersebut harus memiloiki sertifikat sendiri

3.Mauquf Alaih (Orang yang Menerima Waqaf) Ketika akan mwakafkan harta, hendaknya kita juga sudah memutuskan siapa yan tepat menerimanya. Penerima wakaf harus diketahui dengan jelas keberadaannya, agar kita dapat mengawasi penggunaan harta wakaf tersebut benar-benar sesuai di jalan Allah Swt.

Mauquf Alaih dibagi menjadi dua macam. Pertama mauquf Alaih Tertentu.(mu’ayyan). Penerima ini merupakan satu orang atau sekumpulan orang (badan) yang semuanya sudah tertentu dan tidak dapat dirubah.Syarat penerima ini adalah mereka harus lah orang yang boleh untuk memiliki harta (orang bodoh, gila dan budak tidak boleh menerima wakaf)

Kedua Mauquf Alaih Tidak Tertentu(Ghairu Mu’ayyan). Yang dimaksud tidak tertentu adalah tempat berwakaf tersebut tidak ditentukan secara terperinci. Adapun syarat ghairu Mu’ayyan sama seperti Mu’ayyan.

4.Sighah (Ijab Kabul) Agar waqaf berjalan lancar, maka harus ada ijab Kabul antara Waqif dan Mauqul Alaih.Isi ijab Kabul harus memenuhi persyaratan berikut: a.Ijab Kabul harus kekal. Artinya tidak boleh berwakaf dalam jangka waktun tertentu b.Ijab Kabul harus dilakasanakan dengan segera. c.Ijab Kabul harus pasti. d.Ijab Kabul harus diikuti oleh syarat yang tidak membatalkan.

5.Nazhir (Pengelola Wakaf) Nazhir (Pengelola wakaf) wajib dan mutlak orang yang beragama islam. Nazhir juga harus orang yang cakap di bidangnya, kompeten, dan yang paling penting mereka adalah orang yang amanah. Apabila syarat tersebut sudah terpenuihi maka maka wakaf sudah dianggap sah.

*Perbedaan wakaf dengan zakat Secara umum,yang membedakan wakaf dengan zakat adalah hukumnya. Jika zakat hukumnya fardu ‘ain (wajib), maka wakaf hukumnya adalah sunah. Perbedaan mendasar lainnya adalah waktu dan nisab.Zakat (kecuali zakat fitrah) dikatakan wajib apabila waktu kepemilikan (haul) dan jumlah harta (nisab) sudah terpenuhi. Sedangkan wakaf tidak perlu menunggu nisab dan haul. Apabila harta tersebut memang milik kita dan kadarnya tidak berkurang, kita dapat berwakaf.

*Perbedaan Wakaf Dengan Infaq Sebenarnya wakaf dan infaq hampir sama. Keduanya sama-sama berhukum sunah.Yang membedakan adalah jenis harta yang diberikan. Infak dapat diberikan dalam bentuk apa saja, baik harta kekal ataupun tidak kekal. Pemanfaatan harta infaq juga sepenuhnya menjadi hak si penerima. Apakah penerima infak tersebut ingin mempergunakannya, memberikan pada orang lain, ataupun menjualnya. Semuanya terserah kepada penerima. Sedangkan wakaf, nilai nilai harta yang diberikan harsd kekal (tidak boleh berkurang).

Benda yang yang diwakafkan juga tidak boleh diperjualbelikan atau dipindah tangankan. Penutup Demikianlah tadi sedikit penjelasan mengenai wakaf. Beberapa diantara kita yang masih sedikit bingung mengenai perbedaan wakaf ,zakat, dan infak semoga dapat mengerti dan memahami. Artikel diatas bisa kalian jadikan acuan jika hendak memberikan sedikit harta kita untuk sesame, baik dengan jalan Zakat, wakaf maupun sedekah. Akhir kata semoga kita selalu diberi kesehatan dan rezeki yang cukup agar dapat membantu sesama

1 komentar


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done